Mari
Lakukan Perencanaan Makan Bagi Lansia
Menjadi manusia lanjut usia secara alami
akan dialami oleh setiap orang. Proses ini tidak dapat dihindari, dicegah, atau
ditolak kecuali mereka yang ditakdirkan meninggal pada usia muda. Sehingga usia
lanjut dapat dikatakan sebagai usia emas, karena tidak semua orang dapat
mencapai usia tersebut.
Lansia
merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menua atau menjadi tua
merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupan yaitu anak, dewasa, dan tua. Setiap tahap memiliki perbedaan secara fisik
dan secara prikologis. Lansia diklasifikasikan sebagai berikut :
- Pralansia (Prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
- Lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
- Lansia resiko tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
- Lansia potensial yaitu lansia yang masih mempu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
- Lansia tidak potensional yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
Tetapi
tahukah kamu nutrisi apa saja yang dibutuhkan oleh para lansia ?? Pasti jawaban
yang sering kamu dengan adalah “lansia itu tidak boleh terlalu banyak
mengkonsumsi lemak”, “lansia itu tidak boleh mengkonsumsi banyak gula”, “lansia
itu harus mengurangi konsumsi garam”, “lansia itu harus banyak mengkonsumsi
sayur”, “lansia itu tidak boleh mengkonsumsi kacang”, dan sebagainya. Rata-rata
semua orang akan menjawab pertanyaan itu dengan terselip kata “mengurangi” dan
“tidak boleh makan”. Untuk itu mari kita sama-sama mengetahui kandungan nutrisi
apa yang dibutuhkan lansia.
Gambar 1 Piramida Makanan Bagi Lansia (Dewi, 2004)
Kebutuhan
nutrisi yang optimal akan mendukung kesehatan dan kemandirian lansia dengan
menurunkan resiko penyakit kronis dan memperlambat proses perkembangan
penyakit. Lansia dengan status nutrisi yang baik jarang mengalami penyakit infeksi,
masa rawat inap yang pendek, lebih cepat sembuh dan mengalami sedikit
komplikasi penyakit dibandingkan lansia dengan status nutrisi yang buruk.
Zat Gizi
|
Angka Kecukupan Gizi
|
|||
Pria
|
Wanita
|
|||
50-64 tahun
|
>65 tahun
|
50-64 tahun
|
>65 tahun
|
|
Energi (kal)
|
2350
|
2050
|
1750
|
1600
|
Protein (g)
|
60
|
60
|
50
|
45
|
Kalsium (mg)
|
800
|
800
|
800
|
800
|
Fe (mg)
|
13
|
13
|
12
|
12
|
Vitamin A (PE)
|
600
|
600
|
500
|
500
|
Vitamin C (mg)
|
90
|
90
|
75
|
75
|
Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII
(2004)
1. Energi
Kebutuhan energi secara umum menurun seiring
bertambahnya usia pada periode lansia karena terjadinya perubahan komposisi
tubuh, penurunan angka metabolisme basal, dan pengurangan aktivitas fisik. Tubuh
manusia menghasilkan energi yang berasal dari metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein. Energi dibutuhkan secara teratur untuk mempertahankan kondisi
tubuh terutama untuk memelihara fungsi dasar tubuh yang disebut metabolisme
basal sebesar 60-70% dari kebutuhan energi total. Energi yang dibutuhkan lansia
berbeda dengan energi yang dibutuhkan oleh dewasa karena perbedaan aktivitas
fisik yang dilakukan. Selain itu, energi juga dibutuhkan oleh lansia untuk
menjaga sel-sel maupun organ-organ dalam tubuh agar bisa tetap berfungsi dengan
baik walaupun fungsinya tidak sebaik seperti saat masih muda.
1. Protein
Protein adalah substansi kimia dalam makanan yang
terbentuk dari serangkaian atau rantai-rantai asam amino. Protein dalam makanan
di dalam tubuh akan berubah menjadi asam amino yang sangat berguna bagi tubuh
yaitu untuk membangun dan memelihara sel, seperti sel otot, tulang, enzim dan
sel darah merah. Bagi lansia asupan protein total yang dibutuhkan manusia akan
menurun sesuai dengan perubahan usia seseorang. Hal ini terkait dengan
penurunan fungsi sel-sel tubuh manusia. Besaran protein dipatok pada angka 0,8
g/kg BB/hari. Bahan makanan yang berasal dari hewan merupakan sumber protein
yang baik dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging, unggas, ikan
dan kerang. Pemilihan protein yang baik bagi lansia sangat penting menginggat sintesis
protein di dalam tubuh tidak sebaik saat muda, dan banyak terjadi kerusakan sel
yang harus segera diganti.
2. Vitamin
Vitamin merupakan senyawa kimia yang sangat esensial
bagi tubuh walau ketersediaanya di dalam tubuh dalam jumlah sedemikian kecil
dan diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang normal. Terdapat
beberapa jenis vitamin yang bermanfaat bagi sistem imunitas tubuh dan mencegah
timbulnya radikal bebas pada lansia, misalnya vitamin A dan vitamin C.
Vitamin A pada lansia memiliki fungsi untuk melawan
radikal bebas yang menyebabkan penuaan. Selain itu juga, vitamin A berfungsi
untuk memelihara kesehatan kulit mencegah timbulnya penyakit kanker dan jantung
koroner. Manfaat lainnya menghambat pertumbuhan sel kanker, mencegah penyumbatan
arteri yang menyebabkan serangan jantung dan menurunkan risiko stroke.
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh,
sebagai koenzim atau kofaktor. Pada lansia, vitamin C bermanfaat menghambat
berbagai penyakit. Fungsinya antara lain meningkatkan kekebalan tubuh,
melindungi dari serangan kanker, melindungi arteri, meremajakan dan memproduksi
sel darah putih, memperbaiki kualitas sperma dan mencegah penyakit gusi.
Kandungan vitamin C serum pada lansia lebih rendah jika dibandingkan dengan
orang yang lebih muda.
3. Mineral
Meskipun tampak sehat, kekurangan sebagian vitamin dan
mineral tetap saja berlangsung pada lansia. Kebutuhan energi yang menurun tidak
seiring dengan penurunan kebutuhan vitamin dan mineral, bahkan kebutuhan
vitamin dan mineral cenderung sama atau meningkat. Rendahnya status mineral
pada lansia dapat terjadi karena asupan mineral yang tidak cukup, perubahan
fisiologis dan pengobatan.
Kalsium atau Ca merupakan mineral yang paling banyak
terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa atau
sekitar 1 kg. Fungsi kalsium bagi lansia adalah sebagai komponen utama tulang
dan gigi, berperan dalam kontraksi dan relaksasi otot, fungsi saraf, proses
penggumpalan darah, menjaga tekanan darah agar tetap normal serta sistem
imunitas tubuh.
Zat besi atau Fe merupakan mineral makro yang paling
banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3-5 g di dalam
tubuh dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh sebagai
alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut
elektron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di
dalam jaringan tubuh.
Apabila kita memiliki anggota keluarga
lansia, dapat kita amati bahwa porsi makanan yang dikonsumsi cenderung sedikit,
bahkan tak jarang para lansia tidak mau makan. Keadaan yang seperti ini dapat
membuat kebutuhan nutrisi bagi lansia tidak tercukupi. Selain itu kebutuhan
nutrisi bagi lansia dapat dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
- Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
- Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
- Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
- Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
- Gerakan usus atau gerak peristaltik lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
- Penyerapan makanan di usus menurun.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan
masalah kesehatan bagi lansia. Oleh karena itu sebaiknya kita harus menerapkan
metode perencanaan makanan untuk lansia yaitu dengan cara :
- Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
- Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.
- Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
- Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.
- Bagi lansia sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : makanlah makanan yang mudah dicerna, hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goreng-gorengan, makanan harus lunak/lembek atau dicincang, jika susah mengunyah, makan dalam porsi kecil tetapi sering, makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan.
- Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
- Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
- Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng.
- Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna, untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti sayuran dan buah-buahan segar, roti dan sereal; sarankan untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untumelembutkan feses; dan sarankan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin , karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif.
Selain
itu Departemen Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Umum Gizi Seimbang
(PUGS) yang memberikan pedoman umum gizi seimbang untuk lansia yaitu :
- Makanlah aneka ragam makanan.
- Makanlah sumber karbohidrat kompleks (serealia dan umbi).
- Batasi minyak dan lemak secara berlebihan.
- Makanlah sumber zat besi secara bergantian antara sumber hewani dan nabati.
- Minumlah air yang bersih, aman, dan cukup jumlahnya dan telah dididihkan.
- Kurangi konsumsi makanan jajanan dan minuman yang tinggi gula murni dan lemak.
- Perbanyak frekuensi makan hewani laut dalam menu harian.
- Gunakanlah garam beryodium, namun batasilah penggunaan garam secara berlebihan, kurangi konsumsi makanan dengan pengawet.
Daftar Pustaka :
Departemen
kesehatan RI. 2007. Pedoman Tata Laksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Direktorat Gizi Masyarakat
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI. Jakarta
Dewi,
S. R. 2004. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : CV.Budi Utama.
dr.
S. Tamber, M.Ph. dan Dra. Noorkasiani, AMK., M.Kes. 2009. Kesehatan Usia Lanjut
Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jkarta :Salemba Medika.
Fatmah.
2010. Gizi Usia Lanjut. Erlangga : Jakarta
Harris NG.
2008. Nutrition in Aging. Di dalam: Mahan LK, Escott-Stump S, editor. Krause’s
Food, Nutrition & Diet Therapy 12th ed. USA: Elsevier. hlm. 319-396.
Muhith,
A & S. Siyoto. 2016. Pendidikan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Andi
Offset.
Santoso,
H & A. Ismail. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta:BPK Gunung Mulia.
Tabor,
S., Soekirman, Martianto, D. Keterkaitan Antara Krisis Ekonomi, Ketahanan
Pangan, dan Perbaikan Gizi. Dalam Soekirman et
al., editor. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII “Ketahanan Pangan dan
Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi”; Jakarta 17-19 Mei 2004. Jakarta :
LIPI.



Informasi sudah cukup informatif dan menarik. Tetapi apakah bisa ditambahkan atau diperjelas mengenai informasi tentang efek samping jika kelebihan atau kekurangan nutrisi untuk lansia? Terima kasih
BalasHapusartikel anda sudah informatif dan jelas. Tapi saran saya sebaiknya pada nutrisi seperti energi, protein, vitamin, dll bisa diberikan sumbernya dari hewani maupun nabati. Terimakasih
BalasHapus